Selasa, 29 Januari 2013

Ziarah ke Makam Pujangga Ronggowarsito

0 komentar
Makam R.Ng Ronggowarsito
Tempat yang satu ini sangat dikeramatkan, tak sekedar oleh warga sekitar saja, bahkan pula oleh bangsa ini. Banyak para pemimpin negeri yang telah mengunjungi makam pujangga besar kenamaan ini, apalagi saat akan digelarnya perhelatan akbar pemilihan presiden. Konon dipercaya, dengan berziarah ke makam ini akan memapu memuluskan jalan menuju kursi nomor satu negeri ini.

Tempat ini berupa sebuah kompleks kuburan kuno yang ada di Dusun Kedon, Palar, Trucuk, Klaten, Jawa Tengah. Di areal kompleks makam seluas kurang lebih 100 meter persegi ini, di sinilah makam para leluhur dan para pendiri kota Klaten ini dimakamkan.

Di makam yang berjarak sekitar 10 km sebelah tenggara pusat kota Klaten ini pula bersemayam jasad seorang tokoh besar dalam sejarah cerita babad tanah Jawa, yaitu Raden Ngabei Ronggowarsito.

Diceritakan oleh Mbah Sewo (80), nenek tua juru kunci kompleks makam tua ini kepada penulis; Ronggowarsito adalah seorang tokoh pujangga alias peramal ulung yang sangat disegani oleh para raja-raja yang ada di tanah Jawa. Ronggowarsito lahir di Yosodipura, Surakarta, Jawa Tengah, dengan nama kecil yaitu Bagus Burhan. Dalam penanggalan Jawa, Ronggowarsito terlahir pada tanggal 10 Dzulkaidah, tahun Be 1728, wuku Sungsang, atau dalam hitungan penanggalan Masehi berarti tanggal 15 Maret 1802, tepat pukul 12 siang.

Karena kepekaan spiritual dan olah kebatinan yang dimilikinya, Ronggowarsito akhirnya didaulat oleh Keraton Surakarta untuk menjadi peramal istana. Keraton Suakarta ini merupakan kerajaan pecahan dari Keraton Yogyakarta paska Perjanjian Giyanti tahun 1755. “Tugas dari Raden Ronggowarsito adalah meramalkan setiap apa saja yang bakalan terjadi pada pemerintahan Keraton Surakarta,” jelas nenek 12 cucu ini.

Di lingkungan kerajaan jaman dahulu, keberadaan seorang peramal istana memang sangat dibutuhkan untuk kelangsungan kehidupan bagi kerajaan itu. Selain untuk meramalkan tentang apa yang akan terjadi terhadap kehidupan kerajaan, seorang pujangga juga dibutuhkan jasanya untuk meramalkan kekuasaan dari sang raja itu sendiri di kemudian hari.

Artinya, dengan ramalan-ramalan dari seorang ahli nujum istana tersebut, sang raja pun bisa mengantisipasi sejak awal guna mengamankan posisi kekuasaannya dari gangguan perusuh yang ingin menjatuhkan dan menggantikan posisinya.

Ronggowarsito mengabdi sebagai ahli ramal Keraton Surakarta ini sejak masa pemerintahan Sultan PB VII hingga Sultan PB VIII di keraton tersebut. Berkat ramalan-ramalan dari Ronggowarsito, Keraton Surakarta sempat mengalami masa kejayaan dan menjadi kerajaan yang disegani di kawasan tanah Jawa.

Ronggowarsito meninggal dunia pada tahun 1873 dalam usia 71 tahun. Dalam salah satu wasiat terakhirnya, Ronggowarsito berpesan untuk dimakamkam berdekatan dengan pusara kakeknya, yaitu Sudiro Dirjo Gantang di kompleks dimana kini makam Ronggowarsito berada.

Kematian Ronggowarsito merupakan kehilangan besar bagi Keraton Surakarta. Ronggowarsito tutup usia dengan meninggalkan ratusan ramalan-ramalan yang ditulisnya dalam bentuk syair dan bait yang sampai saat ini terus menjadi tanda tanya besar yang belum terpecahkan bagi masyarakat Jawa pada umumnya.

Soekarno Juga Percaya Ramalan Ronggowarsito

Sebagai seorang peramal kerajaan besar, hampir semua ramalan-ramalan dari sang pujangga yang tertulis dalam beberapa kitab inipun tidak pernah meleset bagi apa yang terjadi dikehidupan Kerajaan Surakarta dikemudian hari.

Saking mahsyurnya ramalan Ronggowarsito ini, bahkan kitab-kitab ramalannya pun dipercaya juga berlaku bagi apa yang akan terjadi bagi kehidupan negeri ini, Indonesia. Salah satu orang yang sangat percaya dengan ramalan Ronggowarsito tersebut adalah mendiang Soekarno, presiden pertama negeri ini.

Ronggowarsito merupakan salah satu tokoh yang menjadi panutan Soekarno. Pemimpin yang kental dengan olah kebatinan Jawa ini pun semasa hidupnya sering mengunjungi kompleks makam ini untuk berziarah dan meminta petunjuk serta restu di hadapan pusara Ronggowarsito.

“Pada tahun 1952, Pak Karno merenovasi makam R.Ng Ronggowarsito. Makam Raden Ronggowarsito dibuatkan bangunan tersendiri dan baru selesai pembanguannya pada tahun 1954,” terang nenek tua yang mewarisi jabatan menjadi juru kunci makam Ronggowarsito dari suaminya yang telah meninggal dunia pada tahun 1978.

Oleh mendiang Soekarno, pusara Ronggowarsito dibuat terpisah dari makam lainnya, masih di dalam kompleks makam tersebut. Makam tokoh legendaris ini pun dibuatkan bangunan permanen tersendiri seperti rumah, yang disebut cungkup.

Di dalam cungkup seluas sekitar 50 meter persegi tersebut, terdapat pula 11 nisan kerabat dekat Ronggowarsito yang diantaranya adalah kedua istri tercintanya yang bernama, Raden Ayu Gombak dan Raden Kumaradewa. Nisan pusara Rongowarsito terbuat dari batu marmer putih besar setinggi sekitar 1 m yang ditutupi kain kelambu berwarna putih.

Selama hidupnya, Proklamator ini pun sering pula menerapkan ramalan-ramalan dari Ronggowarsito dalam setiap langkah politiknya, baik di dalam politik luar negeri ataupun dalam politik nasional bangsa ini dan menjadikan ramalan tersebut sebagai peringatan akan kejadian negeri ini yang akan datang. Termasuk ramalan tentang akan berakhirnya kekuasaannya ditangan Soeharto. Soekarno pun telah mengetahui jauh-jauh sebelumnya.

“Ada beberapa ramalan Ronggowarsito yang berkaitan dengan kehidupan bangsa ini, misalnya kitab Kalatidha. Syair-syair yang tertulis dalam kitab tersebut menceritakan tentang jaman edan,” cerita Mbah Sewo.

Jaman edan yang dimaksud dalam kitab Kalatidha tersebut, adalah jaman dimana situasi negeri ini serba tidak terkendali, kondisi bangsa ini mirip seperti kondisi seorang edan alias gila. Jika ditafsirkan, jaman edan tersebut adalah jaman ketika pemberontakan G/30S/PKI dan masa revolusi yang akhirnya mengakhiri karir politik dan pemerintahan Soekarno.

Mencoba ditafsirkannya lagi oleh Mbah Sewo, bahwa peristiwa jaman edan tersebut terulang kembali ketika awal akan lengser keprabon alias runtuhnya rezim Suharto setelah sekitar 32 tahun bertahta. “Jaman edan pada kitab Kalatidha tersebut juga terbukti pada jaman roformasi, saat Pak Harto akan berhenti jadi presiden,” terang buyut 8 cicit ini.

Ramai Saat ada Pemilu

Makam Ronggowarsito ini juga menyimpan misteri lain. Mitosnya, makam ahli nujum kerajaan Surakarta ini juga dipercaya mampu untuk mendongkrak alias menaikan pamor dan drajat bagi mereka yang datang dan mendoakan Ronggowarsito di makam ini. Dalam hal ini adalah derajat untuk kepentingan kepemimpinan.

“Mamang benar, makam Raden Ronggowarsito ini dipercaya oleh orang banyak akan mampu untuk meningkatkan derajat, pangkat, serta wibawa seseorang, bagi siapa saja yang melakukan ziarah ke makam Raden Ronggowarsito ini.”

Jejak Bung Karno yang sering mengunjungi dan berziarah serta laku perihatin di makam Ronggowarsito, akhirnya berhasil membuat dirinya memimpin negeri ini sebagai presiden pertama. Ritual seperti itu pulalah yang juga ditiru oleh banyak orang yang ingin berhasil menjadi seorang pemimpin, baik dari tingkat pemimpin desa sampai pada tingkat pemimpin sekelas presiden.

Seperti dikatakan Mbah Sewo, banyak orang-orang penting negeri ini yang telah mengunjungai makam Ronggowarsito. Hampir semuanya yang mengunjungi dan berziarah di makam ini, tak lama kemudian terkabul keinginannya untuk menjadi seorang pemimpin.

“Dahulu Gus Dur pernah ziarah ke makam Raden Ronggowarsito ini, itu sekitar tahun 1998, setelah Pak Harto berakhir menjadi Presiden. Gus Dur ke sini cuma sebentar, langsung pergi tanpa pamit kepada saya,” kenang Mbah Sewo.

Terbukti, setelah kedatangan Gus Dur alias Abdurrahman Wahid di tempat ini, setahun kemudian, di tahun 1999 dirinya mampu bertahta menjadi Presiden ke-4 negeri ini, menggantikan presiden sementara kala itu, BJ Habibie.

Tak berselang lama, giliran Megawati Soekarnoputri datang berziarah di makam Ronggowarsito ini mengikuti jejak oran tuanya, Soekarno. Kala itu Magawati masih menjadi Wakil dari Presiden Abdurrahman Wahid.
“Malam-malam sekitar jam 2 pagi saya disusul oleh warga sini, katanya ada Ibu Megawati datang mau ziarah. Lalu saya datang ke makam untuk membukakan pintu makam Raden Ronggowarsito. Saya lihat Ibu Megawati memakai kerudung dan menaburkan bunga di pusara makam Raden Ronggowarsito bersama 2 orang perempuan lainnya.”

Yang terjadi kemudian, keinginan Megawati terkabul juga untuk naik tahta menjadi presiden. Pada tanggal 23 Juli 2001, akhirnya Megawati resmi menjadi presiden ke-5, sekaligus presiden perempuan pertama di negeri ini menggantikan presiden sebelumnya, Abdurrahman Wahid.

Mbah Sewo pernah juga menerima kedatangan Khofifah Indar Parawansa, tokoh perempuan yang cukup dekat dengan keluarga Gus Dur, untuk berziarah di makam Ronggowarsit. “Saat itu pas ramainya beliau akan dicalonkan untuk menjadi menteri.”

Dan benar, tak selang lama kemudian setelah kedatangannya di makam ini, akhirnya Khofifah pun dilantik untuk menduduki posisi sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan pada kabinet menteri masa pemerintahan Gus Dur dan Megawati.

“Pak Bibit Waluyo juga pernah ke sini sebelum pemilihan Gubernur Jawa Tengah, akhirnya beliau terpilih menjadi Gubernur Jawa Tengah. Besok kalau pemilihan presiden sudah dekat, pasti banyak orang penting yang akan datang berziarah ke makam Raden Ronggowarsito ini lagi,” tuturnya.

R.Ng Ronggowarsito Sang Filusuf Nusantara

0 komentar

Add caption
Ronggowarsito dalam Selubung Mitos
Kolonialisme yang terjadi hingga pertengahan abad ke 20 bukan hanya dalam bentuk penjajahan secara fisik, melainkan penjajahan pikiran. Inilah yang menjadi persoalan. Meskipun Negara kita sudah memproklamasikan merdeka, tetapi tan pa kita sadari pemikiran  kita belum bebas dari sisa-sisa penjajahan tempo dulu. 

Penjajahan pikiran ini antara lain tercermin dalam berbagai mitos yang berkembang di negeri ini, baik mitos terhadap tokoh (Sukarno, Pangeran Diponegoro, dan lain-lain), mitos terhadap tempat (makam keramat, Gunung angker, dan lain-lain), mitos terhadap benda purbakala (candi, menhir, keris dan lain-lain).

Harus diakui, penilaian terhadap mitos itu relatif: ada mitos baik, mitos buruk, mitos benar dan mitos salah. Atau dengan kata lain, apapun mitos yang selama ini berkembang di masyarakat masih tetap dapat diperdebatkan nilai dan fungsinya.

Tulisan ini sekilas mengulas seputar mitos terhadap seorang putra terbaik yang pernah dimiliki bangsa ini yang namanya sangat fenomenal: Raden Ngabehi Ronggowarsito (1802-1873). Sosok fenomenal ini dikenal karena kecerdasan supranaturalnya yang jauh di atas orang-orang pada masanya. Bahkan hingga kini, kecerdasan supranaturalnya belum tertandingi siapapun.

Dalam berbagai buku, makalah, seminar, skripsi, disertasi, tulisan di internet dan ulasan berbagai media, senantiasa menempatkan Ronggowarsito sebagai pujangga dan peramal terbaik yang pernah dimiliki bangsa ini.

Ronggowarsito terkenal karena karya-karyanya mengandung bermacam ramalan hingga ratusan tahun ke depan. Serat Kalatidha berikut ini salah satunya:

Amenangi zaman edan,
Ewuh aya ing pambudi,
Milu edan nora tahan,
Yen tan milu anglakoni,
Boya kadumen melik,
Kaliren wekasanipun,
Ndilalah kersa Allah,
Begja begjane kang lali,
Luwih begja kang eling klawan waspada,
Maknanya:
Menyaksikan zaman gila,
Serba susah dalam bertindak,
Ikut gila tidak akan tahan,
Tapi kalau tidak mengikuti (gila),
Tidak akan mendapat bagian,
Kelaparan pada akhirnya,
Namun telah menjadi kehendak Alloh,
Sebahagia-bahagianya orang yang lalai (lupa),
Akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada.

Karya-karya Ronggowarsito yang terkenal diantaranya: Serat Kalatidha berisi gambaran penjajahan yang disebut Zaman Edan. Serat Jaka Lodhang berisi ramalan datangnya Zaman Baik dan Serat Sabdatama yang berisi ramalan tentang sifat Zaman Makmur dan Perilaku Manusia yang Tamak. Bahkan menjelang akhir hayatnya, beliau menulis Serat Sabda Jati yang diantaranya berisi ramalan saat kematiannya sendiri.

Tetapi, nanti dulu. Sosok fenomenal yang namanya selalu diidentikkan dengan julukan peramal ini tampaknya tidak sesuai lagi disematkan pada Ronggowarsito. Julukan peramal adalah mitos menyesatkan yang dengan atau tanpa sengaja tertanam kuat di dalam benak masyarakat. Dengan kata lain, Ronggowarsito memiliki kecerdasan yang lebih dari sekadar seorang peramal. Ronggowarsito adalah filsuf besar Nusantara.

Ronggowarsito Tak Sekadar Peramal
Menempatkan Ronggowarsito sebagai filsuf besar Nusantara, daripada sekadar pujangga dan peramal, diuraikan dalam buku Mengenali Ronggowarsito sebagai Filsuf  : Ketika Pemikiran Filsafat Dianggap Ramalan (Bidik-Phronesis Publishing, Jakarta, Mei 2012). Buku ini ditulis Lilik Sofyan Achmad (LSA) yang sejauh ini dikenal sebagai Guru Besar yang tekun dalam meneliti dan mengkaji karya-karya Ronggowarsito.

Gagasan penulisan buku ini berawal dari sebuah pertanyaan besar: Apakah pemikiran-pemikiran Ronggowarsito hanya berisi ramalan-ramalan belaka? Pertanyaan inilah yang membawa LSA menelusuri secara jernih, teliti dan tajam terhadap seluruh karya Ronggowarsito. Lalu dari hasil kajiannya selama bertahun-tahun, LSA menyimpulkan bahwa pemikiran-pemikiran Ronggowarsito terbukti memiliki sistematika yang logis. Inilah yang secara meyakinkan menempatkan Ronggowarsito sebagai seorang filsuf besar yang pernah dimiliki bangsa ini.

Buku setebal 88 halaman ini merangkum hasil kajian LSA dalam hal pembuktian Ronggowarsito sebagai filsuf besar Nusantara yang sejajar dengan filsuf-filsuf besar negeri ini dan dunia dan bukan sekadar pujangga kraton, peramal, cenayang, paranormal atau apapun namanya.

Buku ini diawali dengan bab 1 yang mengisahkan masa kecil dan perjalanan karir Ronggowarsito. Bab 2 seputar teori paska kolonial dan relevansinya dengan pemikiran Ronggowarsito. Bab 3 mengungkap segala sesuatu yang dibangun dengan mitos dan bagian Penutup.

Buku ini menjadi menarik karena pada bagian akhir terdapat epilog berjudul Ronggowarsito Memang Filsuf yang ditulis Turita Indah Setyani. Dia adalah peneliti sastra dan budaya Jawa lulusan Fakultas Sastra Universitas Indonesia di bidang kajian budaya dan feminisme yang kerap menjadi pembicara di pelbagai forum ilmiah nasional dan internasional. Tulisan Turita Indah Setyani sangat membantu Pembaca dalam memahami seluruh rangkaian isi buku ini.

Tidak kalah menariknya adalah kata pengantar buku ini yang ditulis Riko, Direktur Penerbit Buku Bidik-Phronesis Publishing. Riko tampaknya faham benar dengan LSA yang dilanda kegelisahan terhadap sosok Ronggowarsito yang hanya dikenal generasi muda bangsa ini sebagai seorang peramal.

Riko membuka jalan bagi LSA untuk mempublikasikan hasil kajiannya. Buku Mengenali Ronggowarsito sebagai Filsuf merupakan buku pertama yang terbit di Tanah Air yang secara tegas dan ilmiah memberi julukan baru kepada sosok fenomenal Ronggowarsito.

Sebuah Usaha Membongkar Mitos
Anda tentu sudah lama mengetahui bahwa Ronggowarsito adalah seorang peramal ulung. Lalu Anda mungkin bertanya-tanya: Apakah terbitnya buku ini akan menumbangkan reputasi Ronggowarsito sebagai peramal?
Jawabannya: Tidak.

Buku ini sama sekali tidak bermaksud meruntuhkan Ronggowarsito sebagai seorang peramal yang ramalan-ramalannya masih relevan hingga saat ini, sebagaimana kutipan ramalan di atas. Buku ini justru hendak menegaskan bahwa Ronggowarsito memiliki kecerdasan yang jauh lebih tinggi daripada sekadar menempatkannya sebagai seorang peramal. Pemikiran-pemikiran Ronggowarsito yang terangkum dalam karya-karya monumentalnya itu bukanlah kitab ramalan, melainkan kitab filsafat. Ramalan hanya sebagian saja dari seluruh pemikiran filsafat Ronggowarsito.

Lalu pertanyaannya, mengapa selama ini kita mengenal Ronggowarsito sebagai peramal?
Inilah yang saya maksud dengan penjajahan pikiran. Sebagaimana petikan puisi Rudyard Kipling di atas (East is East and West is West, and never the twain shall meet).

Sejak dulu, bangsa Barat mencoba menanamkan ke dalam pikiran bangsa Timur bahwa para filsuf (atau para pemikir dunia) hanya milik bangsa Barat (baca: Eropa dan Amerika). Sehingga klaim majunya peradaban dan kecerdasan manusia harus selalu dimulai dari bangsa Barat.

Sedangkan bangsa Barat selalu mengidentikkan bangsa Timur dengan ramalan, mistik, supranatural yang dianggap sumber keterbelakangan. Padahal, manusia-manusia dari ras bangsa Timur ini memiliki kecerdasan yang setara dengan kecerdasan bangsa Barat.

Membaca buku baru ini memberi keyakinan kepada saya bahwa sosok fenomenal Raden Ngabehi Ronggowarsito memang sudah selayaknya disejajarkan dengan para filsuf negeri ini dan filsuf dunia. Tujuan utama penulis buku ini, tentu saja, hendak menempatkan pemikiran Ronggowarsito dalam pisau bedah filsafat dan tidak lagi membiarkan para petualang mistik, supranatural atau klenik, terus berputar-putar membicarakan ramalan Satrio Piningit, Zaman Edan dan sejenisnya.

Kajian pemikiran Ronggowarsito dapat berada dalam meja yang sama dengan para filsuf lainnya di negeri ini, seperti Tantular, Paku Buwana IV,  Ki Hajar Dewantara, Driyarkara, Romo Sugijapranata, Hamka, Franz Magnis Suseno, Leo Suryadinata, Nurcholish Madjid, Damarjati Supadjar, FX. Mudji Sutrisno dan lain-lain.
Dan bagi Anda yang senang menggeluti filsafat dan budaya Nusantara, maka saya merekomendasikan untuk membaca buku ini. Selamat Menikmati.

Tahun terbit: 2012.
Jumlah Hal: 88 hal.
Ukuran: 11,5 cm x 18,5 cm.
(Soft Cover, book paper).
Penerbit: Bidik-Phronesis Publishing.
Harga: Rp. 26.000,-

 

Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com